Jumat, 27 Desember 2019

Rangkuman Laporan Praktikum Sistem Digital

POKOK BAHASAN I

Pengenalan Gerbang Logika Dasar



1. Gerbang AND
    
Gerbang AND memerlukan 2 atau lebih masukan (input) untuk menghasilkan hanya 1 keluaran (output). Gerbang AND akan menghasilkan keluaran (Output) Logika 1 jika semua masukan (Input) bernilai Logika 1 dan akan menghasilkan Keluaran (Output) Logika 0 jika salah satu dari masukan (Input) bernilai Logika 0. Rangkaian AND dinyatakan sebagai Z = A*B atau Z=AB (tanpa symbol)

Simbol Gerbang AND

2. Gerbang OR

Gerbang OR memerlukan 2 atau lebih masukan (Input) untuk menghasilkan hanya 1 keluaran (Output). Gerbang OR akan menghasilkan keluaran (Output) 1 jika salah satu dari masukan (input) bernilai logika 1 dan jika ingin menghasilkan keluaran (Output) Logika 0, maka semua masukan (Input) harus bernilai Logika 0. Rangkaian OR dinyatakan sebagai Z = A+B.

Simbol Gerbang OR
3. Gerbang NOT (Interver)

Gerbang NOT hanya memerlukan sebuah masukan (Input) untuk menghasilkan hanya 1 keluaran (Output). Gerbang NOT disebut juga dengan Interver (Pembalik) karena menghasilkan keluaran (Output) yang berlawanan (kebalikan) dengan masukan atau inputnya. Berarti jika kita ingin mendapatkan keluaran (Output) dengan nilai logika 0 maka Input atau masukannya harus bernilai logika 1. Rangkaian NOT dinyatakan sebagai

Simbol Gerbang NOT

4. Gerbang NAND (NOT AND)

Arti NAND adalah NOT AND atau BUKAN AND, Gerbang NAND merupakan kombinasi dari gerbang AND dan Gerbang NOT yang menghasilkan kebalikan dari keluaran (Output) Gerbang AND. Gerbang NAND akan menghasilkan keluaran logika 0 apabila semua masukan (Input) pada logika 1 dan jika terdapat sebuah Input yang bernilai Logika 0 maka akan menghasilkan keluaran (OUtput) Logika 1. Rangkaian NAND dinyatakan sebagai 

Simbol Gerbang NAND

5. Gerbang NOR (NOT OR)

Arti NOR adalah NOT OR atau BUKAN OR, Gerbang NOR merupakan kombinasi dari Gerbang OR dan Gerbang NOT yang menghasilkan kebalikan dari Keluaran (Output) Gerbang OR. Gerbang NOR akan menghasilkan Keluaran Logika 0 jika salah satu dari Masukan (Input) bernilai Logika 1 dan jika ingin mendapatkan Keluaran Logika 1, maka semua Masukan (Input) harus bernilai Logika 0. Rangkaian NOR dinyatakan sebagai 

Simbol Gerbang NOR

6. Gerbang X-OR (Exclusive OR)

X-OR adalah singkatan dari Exclusive OR yang terdiri dari 2 masukkan (Input) dan 1 keluaran (Output) Logika. Gerbang X-OR akan menghasilkan keluaran (Output) Logika 1 jika semua masukan-masukkannya (Input) mempunyai nilai logika yang berbeda. Jika nilai logika Inputanya sama, maka akan memberikan hasil keluaran logika 0. Rangkaian X-OR dinyatakan sebagai 

Simbol Gerbang X-OR

7. Gerbang X-NOR (Exclusive NOR)

Seperti gerbang X-OR, gerbang X-NOR juga terdiri dari 2 masukkan (Input) dan 1 keluaran (Output). X-NOR adalah singkatan dari Exclusive NOR dan merupakan kombinasi dari gerbang X-OR dan gerbang NOT, gerbang X-NOR akan menghasilkan keluran (Output) logika 1 jika semua masukkan atau inputanya bernilai logika yang sama dan akan menghasilkan keluaran (Output) logika 0 jika semua masukkan atau inputnya bernilai logika yang berbeda. 

Hal ini merupakan kebalikan dari gerbang X-OR (Exclusive OR). Rangakaian X-NOR dinyatakan sebagai 

Simbol Gerbang X-NOR


POKOK BAHASAN II

Persamaan Boolean dan Penyederhanaan Rangkaian Logika (Menggunakan Metode K-Map)


Dasar Teori

1. Aljabar Boolean

Aljabar Boolean memuat variabel dan symbol operasi untuk gerbang logika. Simbol yang digunakan pada aljabar Boolean adalah: (.) untuk AND, (+) untuk OR, dan ( ) untuk NOT. Rangkaian logika merupakan gabungan beberapa gerbang, untuk mempermudah penyelesaian perhitungan secara aljabar dan pengisian table kebenaran digunakan sifat-sifat aljabar Boolean.

Dalam aljabar Boolean digunakan 2 konstanta yaitu logika 0 dan logika 1. Etika logika tersebut diimplementasikan kedalam rangkaian logika maka logikan tersebut akan bertaraf sebuah tengangan. Kalua logika 0 bertaraf tengangan rendah (active low) sedangkan logika 1 bertaraf tengangan tinggi (active high). Pada teori-teori aljabar Boolean ini berdasarkan aturan – aturan dasar hubungan antara variabel – variable Boolean.

1. Dalil - dalil Boolean (Boolean Postulates)
  • P1:X=0 atau X=1
  • P2:0.0 = 0
  • P3: 1 + 1 = 1
  • P4: 0 + 0 = 0
  • P5: 1 . 1 = 1
  • P6: 1 . 0 = 0 . 1 = 0
  • P7: 1 + 0 = 0  + 1 = 1
2. Theorem Aljabar Boolean

      T1: Commutative Law
  • A+B = B+A
  • A.B = B.A
      T2: Associative Law
  • (A+B)+C = A+(B+C)
  • (A.B).C = A. (B.C)
      T3: Distributive Law
  • A . (B + C) = A . B + A . C
  • A + (B . C) = (A + B) . (A + C)
      T4: Identity Law
  • A + A = A
  • A . A = A
      T5: Negation Law
  • (A’) = A
  • (A’) = A
      T6: Redundant Law
  • A + A . B = A
  • A . (A + B) = A
      T7: 0 + A = A
  • 1 . A = A
  • 1 + A = 1
  • 0 . A = 0
      T8: A’ + A = 1
  • A’ . A = 0
      T9: A + A’ . B = A + BA . (A’ + B) = A. B

      T10: De Morgan’s Theorem
  • (A + B)’ = A’ . B
  • (A . B)’ = A’ + B
2. K-Map

Peta karnough (karnought Map, K-map) dapat digunakan untuk menyederhanakan persamaan logikaederhanakan persamaan logika yang menggunakan paling banyak enam variabel. Dalam laporan ini hanya akan dibahas penyederhanaan persamaan logika hingga empat variable. Penggunaan persamaan logika dengan lima atau enam variable disarankan menggunakan program computer.
Peta merupakan gambar suatu daerah. Peta kranough menggambarkan daerah logika yang telah di jabarkan pada table kebenaran. Penggambaran daerah pada peta kranough harus mencakup semua logika. Daerah pada peta karnough dapat tumpang tindih antara satu kombinasi variable dengan kombinasi variable yang lain.

2.1 K-Map 2 Variabel



Pada K-Map 2 variabel, variabel yang digunakan yaitu :
Misalnya variabel A & B.

Catatan:
  • Untuk setiap variabel yang memiliki aksen, maka di dalam tabel ditulis 0.
  • Untuk setiap variabel yang tidak memiliki aksen, maka di dalam tabel ditulis 1.
Desain/model pemetaan K-Map 2 variabel dapat dibentuk dengan 2 cara seperti gambar di bawah ini. Pada pembahasan ini, penulis menggunakan desain pemetaan Model 2 seperti berikut :

Dalam menentukan hasil pemetaan, ambil daerah yang berbentuk seperti berikut :

2.2 K-Map 3 Variabel



Pada K-Map 3 variabel, variabel yang digunakan yaitu 3. Misalnya variabel A, B & C.
Desain pemetaan K-Map 3 varabel dapat dibentuk dengan cara 4 cara seperti pada gambar dibawah ini. Pada pembahasan ini, penulis hanya menggunakan desain pemetaan Model 2 seperti berikut :

2.3 K-Map 4 Variabel

Pada K-Map 4 variabel, variabel yang digunakan. Misalnya variabel A, B, C & D. Desain pemetaan K-Map 4 variabel dapat dibentuk dengan 2 cara seperti pada gambar dibawah ini, pada pembahasan ini. Penulis hanya menggunakan desain pemetaan Model 2 seperti berikut :

POKOK BAHASAN III

Multilevel NAND dan OR


1. NAND

Diketahui sebuah persamaan logika sebagai berikut:
Selesaikan persamaan tersebut hanya dengan gerbang NAND saja.
Jawab :


Kalau persamaan awal (soal) kita buatkan rangkaian digitalnya, maka akan terlihat rangkaian seperti berikut:

Dengan cara di atas terliahat kita hanya meggunakan dua IC NAND untuk manbangun sebuah rangkaian yang berfungsi sama. Ini berarti kita sudah bisa menghemat uang dan tempat.

2. NOR

Selesaikan persamaan tersebut dengan mengguankan gerbang NOR saja.
Jawab:
Rangkaian asalnya adalah:

Sedangkan rangkaian setelah diubah ke bentuk NOR saja adalah sebagai berikut.

Dari gambar terliahat dengan membuat rangkaian menjadi berbentuk NOR saja kita tetap hanya membutuhkan dua buah IC saja yang terpakai semuanya (tidak mubazir atau terbuang).

POKOK BAHASAN IV

Rangkaian Aritmatika Digital

1. Adder

Rangkaian Adder (penjumlah) adalah rangkaian elektronika digital yang digunakan untuk menjumlahkan dua buah angka (dalam sistem bilangan biner), sementara itu di dalam komputer rangkaian adder terdapat pada mikroprosesor dalam blok ALU (Arithmetic Logic Unit). Sistem bilangan yang digunakan dalam rangkaian adder adalah :
  • Sistem bilangan biner (memiliki base/radix 2)
  • Sistem bilangan oktal (memiliki base/radix 8)
  • Sistem bilangan Desimal (memiliki base/radix 10)
  • Sistem bilangan Hexadesimal (memiliki base/radix 16)
Namun, diantara ketiga sistem tersebut yang paling mendasar adalah sistem bilangan biner, sementara itu untuk menerapkan nilai negatif, maka digunakanlah sistem bilangan complement. BCD (Binary-Coded Decimal).

a. Half Adder

Half adder adalah suatu rangkaian penjumlah system bilangan biner yang paling sederhana. Rangkaian ini hanya dapat digunakan untuk operasi penjumlahan data bilangan biner sampai 1 bit saja. Rangkaian half adder mempunyai 2 masukan dan 2 keluaran yaitu Summary out (Sum) dan Carry out (Carry).

Rangkaian ini merupakan gabungan rangkaian antara 2 gerbang logika dasar yaitu X-OR dan AND. Rangkaian half adder merupakan dasar bilangan biner yang masing-masing hanya terdiri dari satu bit, oleh karena itu dinamakan penjumlah tak lengkap.
  1. Jika A=0 dan B=0 dijumlahkan, hasilnya S (Sum) = 0.
  2. Jika A=0 dan B=1 dijumlahkan, hasilnya S (Sum) = 1.
  3. Jika A=1 dan B=0 dijumlahkan, hasilnya S (Sum) = 1.
  4. Jika A=1 dan B=1 dijumlahkan, hasilnya S (Sum) = 0. Dengan nilai pindahan Cout (Carry Out) = 1.
Dengan demikian, half adder memiliki dua masukan (A dan B), dan dua keluaran (S dan Cout).

b. Full Adder

Rangkaian Full-Adder, pada prinsipnya bekerja seperti Half- Adder, tetapi mampu menampung bilangan Carry dari hasil penjumlahan sebelumnya. Jadi jumlah inputnya ada 3: A, B dan Cin, sementara bagian output ada 2: Sum dan Cout. Cin ini dipakai untuk menampung bit Carry dari penjumlahan sebelumnya.

Berikut merupakan simbol dari Full Adder :

Rangkaian Full Adder dapat dibuat dengan menggabung 2 buah Half adder. Rangkaian ini dapat digunakan untuk penjumlahan sampai 1 bit. Jika ingin menjumlahkan lebih dari 1 bit, dapat menggunakan rangkaian Paralel Adder yaitu gabungan dari beberapa Full Adder.

2. Subtractor

Merupakan Suatu Rangkaian Pengurangan 2 buah bilangan biner.  Jenis-jenis rangkaian Sub tractor yaitu :

a. Half Subtractor

Rangkaian half subtractor adalah rangkaian Sub tractor yang paling sederhana. Pada dasarnya rangkaian half subtractor adalah rangkaian half Adder yang dimodifikasi dengan menambahkan gerbang not. Rangkaian half subtractor dapat dibuat dari sebuah gerbang AND, gerbang X-OR, dan gerbang NOT.
Rangkaian ini mempunyai dua input dan dua output yaitu Sum dan Borrow Out (Bout). Rumus dasar pengurangan pada biner yaitu :
  1. 0 - 0 = 0 Borrow 0
  2. 0 - 1 = 1 Borrow 1
  3. 1 - 0 = 1 Borrow 0
  4. 1 – 1 = 0 Borrow 0
b. Full Subtractor

Pada Rangkaian full subtractor pin Borrow Out dihubungkan dengan pin Borrow In (Bin) sebelumnya dan pin Bin di hubungkan dengan pin Bout pada rangkaian berikutnya begitu seterusnya. Sehingga pada rangkaian Full Subtractor mempunyai 3 input dan 2 output.
Berikut merupakan symbol dari Full Subtractor :

Rangkaian ini dapat digunakan untuk penjumlahan sampai 1 bit. Jika ingin menjumlahkan lebih dari 1 bit, dapat menggunakan rangkaian Paralel Subtractor yaitu gabungan dari beberapa Full Subtractor.

POKOK BAHASAN V

Enkoder dan Dekoder


1. Enkoder

  1. Rangkailah gerbang logika encoder 4-2 berikut ini :
  2. Sambungkan terminal input dengan interactive input dan terminal output dengan LED.
  3. Jalankan program.
  4. Amati dan catat output terhadap kombinasi keadaan input.

2. Dekoder

  1. Rangkailah gerbang logika decoder 4-2 berikut ini :
  2. Sambungkan terminal input dengan interactive input dan terminal output dengan LED. 
  3. Jalankan Program
  4. Amati dan catat output terhadap kombinasi keadaan input

POKOK BAHASAN VI

Multiplekser dan Demultiplekser


1. Multiplekser


  1. Rangkaian gerbang logika Multiplexer 4-1 berikut ini:
  2. Sambungkan terminal input dengan interactive input dan terminal output dengan LED.
  3. Jalankan program.
  4. Amati dan catat output terhadap kombinasi keadaan input.

2. Demultiplekser

  1. Rangkailah gerbang logika demultiplexer 1-4 berikut ini:
  2. Sambungkan terminal input dengan interactive input dan terminal output dengan LED.
  3. Jalankan Program.
  4. Amati dan catat output terhadap kombinasi keadaan input.















































Jumat, 13 Desember 2019

ALGORITMA DAN PEMROGRAMAN

POKOK BAHASAN 1

Input/Output dan Jenis Data


Setiap program C++ mempunyai bentuk umum seperti di bawah, yaitu :

# preprocessor directive
Void main()
{
// Batang Tubuh Program Utama
}

Penjelasan : 

  1. Include
Adalah salah satu pengarah preprocessor directive yang tersedia pada C++. Preprocessor selalu dijalankan terlebih dahulu pada saat proses komilasi terjadi. Bntuk umumnya :

# include <nama_file>

Tidak diakhiri engan tanda semicolon karena bentuk tersebut bukanlah suatu bentuk pernyataan, tetapi merupakan preprocessor directive. Baris tersebut menginstruksikan kepada compiler yang menyisipkan file lain dalam hal ini file yang berakhiran .h (file.header) yaitu file yang berisi sebagai deklarasi contohnya:

# include <iostream.h> : diperlukan pada program yang melibatkan objek cout
# include <conio.h> : diperlukan bila melibatkan clrscr(), yaitu perintah untuk membersihkan layar.
# include <iomanip.h> : diperlukan bila melibatkan setw() yang bermanfaat untuk mengatur lebar dari suatu tampilan data.

     2. Fungsi main ()

Fungsi ini menjadi awal dan akhir eksekusi program C++. Main adalah nama judul fungsi. Melihat bentuk seperti itu dapat kita ambil kesimpulan bahwa batang tubuh program utama berada didalam fungsi main(). Berarti dalam setiap pembuatan program utama kita menuliskan program utama kita didalam sebuah fungsi main().

    3. Komentar

Komentar tidak pernah decompile oleh compiler. Dalam C++ terdapat 2 jenis komentar, yaitu ;

Jenis 1 : /* Komentar anda diletakkan di dalam ini Bisa mengapit lebih dari satu baris */
Jenis 2 : // Komentar anda diletakkan disini (hanya bisa perbaris)

   4. Tanda Semicolon

Tanda semicolon “ ; ” digunakan untuk mengakhiri sebuah pernyataan. Setiap pernyataan harus diakhiri dengan sebuah tanda semicolon.

  5. Mengenal cout (dibaca : C out)

Pernyataan cout merupakan sebuah objek di dalam C++, yang digunakan untuk mengarahkan data ke dalam standar output (cetak pada layar)

Contoh :
Tanda “ << ” merupakan sebuah operator yang disebut operator “penyisipan/peletakan”

Program matematika bilangan bulat & rill:pembagian

#include <stdio.h>
void main()
{
int a=10, c;
float b=3.5, d;

c=a/b; d=a/b;
printf("a=%d\n",a);
printf("b=%f\n",b);
printf("c=%d\n",c);
printf("d=%d\n",d);
}

Hasil output:









Memperhatikan cara menginisialisasi nilai variable a dan b

Berapakah nilai c dan d?
c = 2 dan d = 1073741824

Mengapa nilai keduanya berbeda meskipun operasinya sama?
Karena c didefinisikan bertipe int (bil.Bulat) dan d bertipe float (bil.Pecahan)

POKOK  BAHASAN 2

Struktur Pemrograman Percabangan


Percabangan ganda: IF-ELSE

Buatlah program untuk menentukan apakah seeorang lulus atau tidak menggunakan nilainya.

#include <iostream.h>
void main()
{
int N;
cout<<"Masukkan nilai(0 s/d 100)=";
cin>>N;
if(N>=60)
cout<<"Lulus"<<endl;
else if(N<60)
cout<<"Tidak Lulus"<<endl;
}

Hasil output:









Error apakah yang muncul waktu compile dan bagaimana yang benar? 

Terjadi error, karena setelah else tidak ada if

POKOK BAHASAN 3

Struktur pemrograman: Lompatan dan Kalang


Sebuah / kelompok instruksi diulang untuk jumlah pengulangan tertentu. Baik yang terdifinisikan pengulangan sebelumnya ataupun tidak.

Struktur pengulangan terdiri atas dua bagian :

  1. Kondisi pengulangan yaitu ekspresi Boolean yang harus dipenuhi untuk melaksanakan pengulangan.
  2. Isi atau badan pengulangan yaitu satu atau lebih pernyataan (aksi) yang akan diulang.

Perintah atau notasi dalam struktur pengulangan adalah :

  1. Pernyataan while
  2. Pernyataan do… while
  3. Pernyataan for
  4. Pernyataan continue dan break
  5. Pernyataan goto

  1. PERNYATAAN  while
Pernyataan while merupakan salah satu pernyataan yang berguna untuk memproses suatu pernyataan atau beberapa pernyataan beberapa kali. Pernyataan while memungkinkan statemen-statemen yang ada didalamnya tidak diakukan sama sekali.

Bentuk Umumnya :

While(kondisi)
{
Pernyataan ;
}

     2. PERNYATAAN do…while

Pernyataan do…while mirip seperti pernyataan while, hnya saja pada do… while prnyataan yang terdapat didalamnya minimal akan sekali dieksekusi.

Bentuk umumnya :
do
{
Pernyataan
} while(kondisi);

    3. PERNYATAAN for

Pernyataan for digunakan untuk menghasilkan pengulangan (looping) beberapa kali tanpa penggunaan kondisi apapun. Pada umumnya looping yag dilakukan oleh for telah diketahui batas awal, syarat looping dan perubahannya.

Pernyataan for digunakan untuk melakukan looping. Pada umumnya looping yang dilakukan oleh for telah diketahui batas awal, syarat looping dan perubahannya. Selama kondisi terpenuhi, maka pernyataan akan terus dieksekusi.

Bentuk Umumnya :

for(inisialisasi ; kondisi ; perubahan)
{
Statement;
}

    4. PERNYATAAN continue dan break

Pernyataan break akan selalu terlihat digunakan bla menggunakan pernyataan switch. Pernyataan ini juga digunkan dalam loop. Bila pernyataan ini dieksekusi, maka akan mengakhiri loop dan akan menghentikan itrasi pada saat tersebut.

   5. PERNYATAAN goto

Penytaan goto, diperlukan untuk melakukan suatu lompatan ke suatu pernyataan berlabel yang ditandai dengan tanda” : “.

Bentuk umumnya: 

Go to bawah;
Pernyataan1;
Pernyataan2;
        Pernyataan3;

Lompatan: label dan goto

Buatlah program dibawah ini. Jalankan dan tulislah tampilan yang muncul. Terangkanlah fungsi dari label dan goto.

#include <iostream.h>
void main()
{
cout<<"ini langkah pertama"<<endl;
goto LABELB;
LABELA:
cout<<"ini langkah kedua"<<endl;
goto LABELC;
LABELB:
cout<<"ini langkah ketiga"<<endl;
goto LABELA;
LABELC:
cout<<"ini langkah keempat"<<endl;
}

Hasil output:








Label dan Goto berfungsi :

Label berfungsi sebagai penunjuk dalam proses

Goto diguankan untuk melompati suatu proses ke proses yang lainnya di dalam program dan juga bisa digunakan sebagai suatu proses perbandingan

POKOK BAHASAN 4

Struktur Pemrograman: Kalang


TABEL KUADRAT

SCRIPT :

#include <iostream.h> 
#include <iomanip.h> 
void main() { 
int x=0; 
cout << " x x kuadrat\n"; 
while (x <= 20)  {
cout << setw(3) << x << setw(8) << (x*x) << endl; 
x++; 
} }

HASIL PROGRAM :



















Jalankan program diatas. Jika, terjadi error, bagaimana yang benar ?
Jawab : tidak ada error waktu program di compile.

Apa guna fungsi setw( ) berfungsi membuat tampilan dalam rata kanan dengan lebar ditentukan oleh nilai yang ada dalam kurung

POKOK BAHASAN 5

Variabel Larik: Matriks dan Strings


SEKUP VARIABEL DALAM KALANG FOR

SCRIPT :

#include <iostream.h> 
main() 
  int i = 5; 
 
  cout <<"di luar kalang i= " << i << endl; 
for (i=1; i<=10; i++) { 
    cout <<" di dalam kalang i= " << i<< endl; 
 
  cout <<"di luar kalang i= " << i << endl; 
}

HASIL OUTPUT :












Mengganti pernyataan for di atas menjadi:
for (int i=1; i<=10; i++) { 

jalankan program tersebut dan perhatikan nilai i yang ditampil-kan. Apa pengaruh pendefinisian variabel i di dalam kalang for(1). Muncul error karena Multiple declaration for „i‟. 

Mengganti pernyataan for di atas dengan menghilangkan bagian inialisasi kalang for menjadi : 
for (; i<=10; i++) { 

Apakah yang terjadi apabila tidak dilakukan inisialisasi pada kalang for(2). Pengaksesan variabel dalam kalang for memakai nilai awal yang telah didefinisikan diluar kalang for Hasil Output : 

HASIL OUTPUT :










POKOK BAHASAN 6

Sorting (Pengurutan)


FUNGSI UNTUK MENGISI DAN MENAMPILKAN MATRIKS

Memodifikasi program untuk dapat mengisi dan menampilkan matriks B dengan ukuran yang sama, serta matriks C yang merupakan penjumlahan antara A dan B.

SCRIPT :

#include <iostream.h>
int N=2;
float A[5][5], B[5][5], C[5][5];
void MengisiMatriksA(float A[5][5]){
for (int i=0; i<N; i++){
for (int j=0; j<N; j++){
cout << "elemen " << i << "," << j << " = ";
cin >> A[i][j];
}
}
void MengisiMatriksB(float B[5][5]){
for (int i=0; i<N; i++){
for (int j=0; j<N; j++){
cout << "elemen " << i << "," << j << " = ";
cin >> B[i][j];
}
void MenjumlahMatriks(float C[5][5]){
for (int i=0; i<N; i++){
for (int j=0; j<N; j++){
C[i][j] = A[i][j] + B[i][j];
}
void MenampilkanMatriksA (float A[5][5]){
for (int i=0; i<N; i++){
for (int j=0; j<N; j++){
cout << "\t" << A[i][j];
}
cout << endl;
}
void MenampilkanMatriksB (float B[5][5]){
for (int i=0; i<N; i++){
for (int j=0; j<N; j++){
cout << "\t" << B[i][j];
}
cout << endl;
}
void MenampilkanMatriksC (float C[5][5]){
for (int i=0; i<N; i++){
for (int j=0; j<N; j++){
cout << "\t" << C[i][j];
}
cout << endl;
}
}
void main()
{
cout << "Masukkan elemen matriks A\n";
MengisiMatriksA(A);
cout << "Masukkan elemen matriks B\n";
MengisiMatriksB(B);
cout << "Matriks A = \n";
MenampilkanMatriksA(A);
cout << "Matriks B = \n";
MenampilkanMatriksB(B);
cout << "Jumlah kedua matriks adalah\n";
MenjumlahMatriks(C); //jk tdk ada hslnya 0 semua
MenampilkanMatriksC(C);
}

HASIL OUTPUT :